Dulu, sedikit pun tak pernah aku membayangkan akan berdiri di sini, di tempat ini. Dulu, atau mungkin juga kemarin, anganku selalu tinggi, di atas sana. Angan di mana aku akan berdiri di tengah keramaian orang-orang sok sibuk itu. Angan di mana aku akan membuat orang-orang sok sibuk itu memperhatikanku. Memperhatikanku karenan aku memang pantas diperhatikan. Bukan karena keanehan atau kekonyolan yang mungkin saja aku ciptakan. Tapi, memperhatikanku karena suatu hal yang aku miliki, dan hanya aku yang memilikinya dan hanya aku yang mampu memilikinya.
Tapi apa artinya segala anganku itu. Semua musnah seketika saat takdir-Nya telah berbicara. Entah kapan, entah bagaimana. Yang aku tahu aku sudah tidak di sana lagi. Ragaku telah ada di tempat ini ketika aku benar-benar menyadarinya. Tempat yang asing. Penuh tawa yang menurutku sangat tak bermakna. Penuh bisik yang membuat telingaku memerah. Penuh pandangan kosong yang memuakkan.
Aku benci tempat ini. Aku benci harus ada di sini. Aku benci berdiri di sini. Aku benci aku. Karena sekarang, aku merupakan bagian dari tempat ini.
Meski sering aku mengatakan, “Satu detik di tempat ini rasanya seperti satu tahun!” toh aku benar-benar melewatinya dengan mulus. Mulus tanpa rasa. Hambar. Sampai tiba di mana masa indahku. Masa remajaku. Masa putih abu-abuku. Yang juga masih aku habiskan di tempat ini.
Tawa tak bermakna itu, masih setiap hari aku mendengarnya. Bisik-bisik menjijikkan itu, masih setiap hari juga aku merasakannya. Tapi semua terlihat biasa. Rasanya sudah tak seperti dulu. Mungkin karena aku sudah khatam mendengarnya. Sudah terlalu biasa, sampai monoton.
Kembali pada masa SMA-ku. Sekarang, aku sudah kelas XII SMA, sudah hampir lulus. Dan ketika aku rasakan, ternyata banyak tawa yang aku tumpahkan di masa SMA-ku ini. Ya, meski aku di tempat ini. Malu juga ketika aku harus mengatakan hal-hal negatif tentang tempat ini sebelumnya. Karena sekarang aku merasa bahagia pernah menginjakkan kakiku di sini. Di tempat ini. Tempat primitif yang ternyata menyimpan sejuta kebahagiaan.
Sedikit pun, seujung jari pun tak ku sesali takdir yang Dia berikan kepadaku. Semua tangisku yang dahulu telah Dia tukar dengan tawa dan kebahagiaan. Bahagia, karena di sini aku menemukan orang-orang yang memperhatikanku bukan karena apa yang aku miliki. Bukan karena aku itu aku. Tapi karena... mereka memang mau memperhatikanku.