potongan surga di khatulistiwa

POTONGAN SURGA DI KHATULISTIWA
By: Enggar SW

Tergambar begitu  indah hamparan hijau ini
Terasa begitu syahdu kunikmati biru ini
Terpercik kebanggaan kala kupijakkan kaki di tanah ini
Tanah surga milik khatulistiwa
Tanah ini tak pernah mati, takkan pernah mati
Tanah ini hebat, terlihat kekar meski terpinggirkan
Lihatlah,
langit senja dengan alunan musik alam mengiringinya
Lihatlah,
rona sang fajar dengan segumpal kesucian embun paginya
Tanah ini, tanahku, punya semua itu
Oh Ibu, aku ingin memeluk tanah ini
Menciumnya, merawatnya,Ibu...

Ibu berikan dayamu
Agar kujaga tanah ini, potongan surga ini
Tanah kelahiranku, secuil dunia di bumi Khatuulistiwa



-TANAH GUNUNGKIDUL-
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

patah hati

PATAH HATI
By: ENGGAR SW

Kutengadahkan tanganku di bawah tetesan hujan
Kuharapkan air suci Sang Kuasa ini dapat menyadarkanku
Kuterpikir dinginnya dapat sejukkan hati dan pikirku
Namun tidak, gejolakku jauh lebih dingin
Kubiarkan diriku termenung dalam hembusan angin itu
Kuharapkan ia berlalu membawa dukaku
Meninggalkanku hanya dengan nyawaku
Namun tidak, ia justru menggumpalkan lukaku
Kulepaskan pandanganku dalam kesunyian
Tak terpikirkan seorang pun kan menjelang
Termasuk ia penggores luka yang tak tersembuhkan
Namun tidak, ia berlalu dengan menyakitkan
Kutundukkan hati dan jiwaku, pikiranku pun begitu
Berharap Sang Kuasa segera turunkan penawar
Karena kurindukan hidupku yang wajar
Namun belum, mungkin nanti
Kulantunkan kata terindah dari bahasa yang mulia
Kupintakan pada pemilikku,
Jika aku darinya, maka kembalikanlah
Jika bukan, maka hindarkanlah
Namun ia berlalu lagi
Di belakangku, lewat di mimpiku, bersemayam di khayalku
Dan saat itu, kan ku tutup pintu hatiku...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

embun ku

Bagai setetes air dalam kekeringan
Dia datang membawa kehidupan
Mengubah kegersangan menjadi nuansa kesejukan
Megubah segala kebimbangan menjadi sebuah harapan
Dia, menciptakan tawa baru dalam hidupku
Dia menyadarkanku bahwa hidupku adalah suatu keindahan
Tapi,
Harapan hanya sekedar harap
Tak mampu ku ubah harapan menjadi suatu keindahan
Embun ku telah pergi, hilang..
Terbekas senyumnnya yang justru membuatku semakin mati
Embun ku, tak bisakah kau kembali?
Tak taukah bahwa aku sakit tanpamu?
Apa kau tahu bahwa kau adalah embun ku?


By: enggar sw
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Bahasa Kalbu

BAHASA KALBU
Oleh: Enggar SW

Ketika bahasa itu tercipta
Takkan satupun insan kan pahaminya
Karena bahasa itu hanya milik mereka
Hanya untuk mereka, dua pemeran utama dalam drama Sang Sutradara
Bahasa itu begitu indah
Tercipta oleh sucinya mata
Terukir bak bulan sabit
Terpancar bagai rona sang fajar
Membekas bagai luka yang tak terkelupas
Bahasa itu, aku ingin memilikinya
Namun tak ada daya tanpa izin dari-Nya
Bahasa itu bukan milikku
Bahasa itu bukan untukku
Bahasa itu bukan hakku
Ia tak tercipta bagiku
Karena aku, bukan pemain pendampingmu...
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

FAKULTAS-FAKULTAS DI UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

here, di kampusku tercinta UIN SUNAN KALIJAGA.. banyak fakultas yang berdiri, hendak mencerdaskan anak-anak negeri dengan sentuhan Islami..
yang kucinta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.. tempatku menimba ilmu, tempatku berteduh, tempatku menghabiskan hari-hari indah di masa mudaku.. tempat yang akan selalu ku kenang sepanjang usiaku..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

hidup karena ALLAH

karena sesungguhnya Allah tak pernah tidur, Allah selalu di sisi, menemani di saat rasa sepi menghampiri, bahkan di saat kita mulai mengingkari apa yang terjadi dalam hidup ini...


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

IA

IA

Tuhan...
Dia begitu rapuh
Terlihat sangat rapuh di mataku
Meski ia tengah tertawa terbahak di hadapanku...
    Tuhan...
    Bagaimana bisa ia berpura di depan semuanya?
    Menutupi luka yang telah menganga begitu hebatnya
    Bisakah Kau memberiku jawaban Tuhan...
Demi apa ia berusaha sekeras itu
Bahkan ia sama sekali tak terlihat bak batu karang di mataku
Ia tengah menangis kesakitan di belakang tawa yang ia suguhkan
Tuhan... sebenarnya aku tahu apa yang tengah ia rasakan
    Aku kesal ketika melihatnya tertawa
    Berpura-pura hebat di atas lukanya
    Aku ingin ia tahu, bahwa aku bisa membantu menutup lukanya
Aku ingin ia tahu, bahwa aku tak akan pergi sekalipun manusia hebat itu menangis di pundakku
Aku ingin ia tahu, bahwa aku tak hanya memandang dari tawanya, namun juga lukanya
Luka yang membuatku ingin melindunginya, menenangkan tangisnya, mengendapkan amarahnya
Tuhan... aku menyayanginya
Ia yang gagal berusaha tegar di hadapanku
Ia yang sebenarnya begitu lemah, namun tak mau mengakui bahwa dirinya rapuh
Ia yang sebenarnya begitu tulus, namun berpura angkuh...


Dan biarkan hanya Engkau dan aku yang tahu siapa Ia, Tuhan...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

HERE

Here, sayup-sayup siulan angin itu mengibarkan gaunku. Terkadang juga menabrak helai demi helai rambutku. Dan kubiarkan saja. Kunikmati dingin sejuknya angin di kala itu. Angin fajar.
    Waktu demi waktu seakan berlari meninggalkanku dengan secercah goresan kesan. Kesan akan indahnya karya Tuhan yang sampai saat ini masih aku pandang. Hamparan air dengan alunan ombak bagai tengah menyanyi ria menghiburku. Aku yang sedari tadi masih diam dalam terpaan angin berteman seberkas cahaya mentari ufuk timur.
    Perlahan kurasakan pasir pantai itu semakin kuat melekat di kulit-kulit kakiku yang dari beberapa waktu yang lalu memang lupa aku gerakkan. Kubiarkan saja. Kupikir ini adalah hiasan alam yang tak setiap waktu dapat aku rasakan. Lama kupandangi di kejauhan. Hamparan bukit, hamparan pasir, lautan luas, dan sinar sang mentari yang agaknya mulai sampai dikeningku. Sinarnya beranjak tinggi.
    Here, aku masih diam. Tak banyak gerakan yang aku lakukan. Hanya sesekali leherku, memandang sekeliling dengan penuh harapan. Ya, harapan yang teramat besar. Harapan tiba-tiba dia akan datang, mungkin dari belakang dengan senyuman yang amat aku kenal. Tapi sampai saat ini belum, mungkin nanti. Mungkin. Sampai-sampai aku lupa bahwa matahari membuat kulit kepala atasku tersengat panasnya. Saat ini siang bolong. Dua belas tepat.
    Oh air, dia telah membasahi gaunku. Gaun yang telah aku siapkan sejak lama hanya untuk hari ini. Sayang air tak dapat merasakan kekesalanku. Andai dia dapat, mungkin tangisnya akan meluap karena makiku. Dan akhirnya, kubiarkan lagi semua itu. Kualihkan perhatianku pada suara bahagia di sekeliling. Suara tawa orang-orang here. Terkadang senyumku pun tak terbendung ketika tawa dan ulah lucu anak-anak manusia itu menggelitik pikirku. Dan tak terasa matahari antiklimaks.
    Aku lelah. Badanku, pikiranku, hatiku. Lelah. Lelah karena tak ada yang dapat aku lakukan. Aku beranjak. Mencoba bangkit dari pasir yang aku duduki sebelum matahari itu bangun sampai mungkin akan tidur lagi. Kulangkahkan kakiku tanpa arah. Kulawan angin. Sampai mereka menabrakku. Mengibarkan helai-helai rambut panjangku yang kusut. Aku masih menunggunya sampai senja.
    Here, aku menunggunya. Sejak fajar hingga senja. Andai dia tahu.

by : Enggar SW
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

SEONGGOK KAYU

SEONGGOK KAYU
Oleh : Enggar SW

Seonggok kayu basah
Kecil, satu, terbuang
Jangankan melihat
Sepatu mereka pun terlalu mahal untuk menginjak seonggok kayu
    Andai seonggok kayu tak seburuk ini
    Andai seonggok kayu bisa dibakar
    Air matanya tak akan sederas ini
Seonggok kayu tak ingin menjadi seonggok kayu
Seonggok kayu ingin menjadi sebutir beras
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

“AKU TIDAK MENYESAL BERDIRI DI TEMPAT INI”

Dulu, sedikit pun tak pernah aku membayangkan akan berdiri di sini, di tempat ini. Dulu, atau mungkin juga kemarin, anganku selalu tinggi, di atas sana. Angan di mana aku akan berdiri di tengah keramaian orang-orang sok sibuk itu. Angan  di mana aku akan membuat orang-orang sok sibuk itu memperhatikanku. Memperhatikanku karenan aku memang pantas diperhatikan. Bukan karena keanehan atau kekonyolan yang mungkin saja aku ciptakan. Tapi, memperhatikanku karena suatu hal yang aku miliki, dan hanya aku yang memilikinya dan hanya aku yang mampu memilikinya.
Tapi apa artinya segala anganku itu. Semua musnah seketika saat takdir-Nya telah berbicara. Entah kapan, entah bagaimana. Yang aku tahu aku sudah tidak di sana lagi. Ragaku telah ada di tempat ini ketika aku benar-benar menyadarinya. Tempat yang asing. Penuh tawa yang menurutku sangat tak bermakna. Penuh bisik yang membuat telingaku memerah. Penuh pandangan kosong yang memuakkan.
Aku benci tempat ini. Aku benci harus ada di sini. Aku benci berdiri di sini. Aku benci aku. Karena sekarang, aku merupakan bagian dari tempat ini.
Meski sering aku mengatakan, “Satu detik di tempat ini rasanya seperti satu tahun!” toh aku benar-benar melewatinya dengan mulus. Mulus tanpa rasa. Hambar. Sampai tiba di mana masa indahku. Masa remajaku. Masa putih abu-abuku. Yang juga masih aku habiskan di tempat ini.
Tawa tak bermakna itu, masih setiap hari aku mendengarnya. Bisik-bisik menjijikkan itu, masih setiap hari juga aku merasakannya. Tapi semua terlihat biasa. Rasanya sudah tak seperti dulu. Mungkin karena aku sudah khatam mendengarnya. Sudah terlalu biasa, sampai monoton.
Kembali pada masa SMA-ku. Sekarang, aku sudah kelas XII SMA, sudah hampir lulus. Dan ketika aku rasakan, ternyata banyak tawa yang aku tumpahkan di masa SMA-ku ini. Ya, meski aku di tempat ini. Malu juga ketika aku harus mengatakan hal-hal negatif tentang tempat ini sebelumnya. Karena sekarang aku merasa bahagia pernah menginjakkan kakiku di sini. Di tempat ini. Tempat primitif yang ternyata menyimpan sejuta kebahagiaan.
Sedikit pun, seujung jari pun tak ku sesali takdir yang Dia berikan kepadaku. Semua tangisku yang dahulu telah Dia tukar dengan tawa dan kebahagiaan. Bahagia, karena di sini aku menemukan orang-orang yang memperhatikanku bukan karena apa yang aku miliki. Bukan karena aku itu aku. Tapi karena... mereka memang mau memperhatikanku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS