HERE

Here, sayup-sayup siulan angin itu mengibarkan gaunku. Terkadang juga menabrak helai demi helai rambutku. Dan kubiarkan saja. Kunikmati dingin sejuknya angin di kala itu. Angin fajar.
    Waktu demi waktu seakan berlari meninggalkanku dengan secercah goresan kesan. Kesan akan indahnya karya Tuhan yang sampai saat ini masih aku pandang. Hamparan air dengan alunan ombak bagai tengah menyanyi ria menghiburku. Aku yang sedari tadi masih diam dalam terpaan angin berteman seberkas cahaya mentari ufuk timur.
    Perlahan kurasakan pasir pantai itu semakin kuat melekat di kulit-kulit kakiku yang dari beberapa waktu yang lalu memang lupa aku gerakkan. Kubiarkan saja. Kupikir ini adalah hiasan alam yang tak setiap waktu dapat aku rasakan. Lama kupandangi di kejauhan. Hamparan bukit, hamparan pasir, lautan luas, dan sinar sang mentari yang agaknya mulai sampai dikeningku. Sinarnya beranjak tinggi.
    Here, aku masih diam. Tak banyak gerakan yang aku lakukan. Hanya sesekali leherku, memandang sekeliling dengan penuh harapan. Ya, harapan yang teramat besar. Harapan tiba-tiba dia akan datang, mungkin dari belakang dengan senyuman yang amat aku kenal. Tapi sampai saat ini belum, mungkin nanti. Mungkin. Sampai-sampai aku lupa bahwa matahari membuat kulit kepala atasku tersengat panasnya. Saat ini siang bolong. Dua belas tepat.
    Oh air, dia telah membasahi gaunku. Gaun yang telah aku siapkan sejak lama hanya untuk hari ini. Sayang air tak dapat merasakan kekesalanku. Andai dia dapat, mungkin tangisnya akan meluap karena makiku. Dan akhirnya, kubiarkan lagi semua itu. Kualihkan perhatianku pada suara bahagia di sekeliling. Suara tawa orang-orang here. Terkadang senyumku pun tak terbendung ketika tawa dan ulah lucu anak-anak manusia itu menggelitik pikirku. Dan tak terasa matahari antiklimaks.
    Aku lelah. Badanku, pikiranku, hatiku. Lelah. Lelah karena tak ada yang dapat aku lakukan. Aku beranjak. Mencoba bangkit dari pasir yang aku duduki sebelum matahari itu bangun sampai mungkin akan tidur lagi. Kulangkahkan kakiku tanpa arah. Kulawan angin. Sampai mereka menabrakku. Mengibarkan helai-helai rambut panjangku yang kusut. Aku masih menunggunya sampai senja.
    Here, aku menunggunya. Sejak fajar hingga senja. Andai dia tahu.

by : Enggar SW
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS